Sunday, 11 May 2014

SISTEM EVALUASI PEMBELAJARAN



Sistem Evaluasi Pembelajaran
A.     Pengertian Tes Tertulis
Tes tertulis ialah tes yang soal dan jawabanya diberikan pada siswa berupa bahasa tulisan. kelebihan tes ini yaitu dapat mengukur kemampuan sejumlah siswa dalam tempat yang terpisah dan dalam waktu yang sama. Dalam tes tertulis, peserta didik relative memiliki kebebasan untuk menjawab soal, sebab tidak banyak pengaruh dari kehadiran pribadi pendidik dalam soal tersebut. sehingga peserta didik lebih bebas dan tidak terikat. Selain kelebihan tes tertulis juga tetap mempunyai kekurangan yaitu belum tentu cocok mengukur ranah psikomotorik dan mengukur ranah afektif pada tingkat karakteristik. disamping itu apabila tidak menggunakan bahasa yang tegas dan lugas dapat mengandung pengertian ganda, sehingga berakibat data yang masuk salah. demikian pula dalam mengambil keputusan.[1]
B.     Bentuk-bentuk Tes
Secara umum tes tertulis dibagi menjadi dua bagian antara lain:
1.                  Tes Subyektif
Tes subyektif pada umumnya berbentuk esai (uraian). tes bentuk uraian adalah sejenis tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata. Ciri-ciri pertanyaannya didahului dengan kata-kata seperti: uraikan, jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. dan soal-soal bentuk uraian ini biasanya jumlah soalnya tidak banyak, hanya sekitar 5-10 buah soal dalam waktu kira-kira 90-120 menit.
1). Adapun kelebihan dan kekurangan pada tes ini yaitu:
a.    Kelebihan
a)    Mudah disiapkan dan disusun.
b)   Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan
c)    Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun dalam bentuk kalimat yang bagus.
d)   Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dan caranya sendiri.
e)      Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan.
b.      Kekurangan
a). Kadar validitas dan reabilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai.
b). Waktu koreksi lama dan tidak bisa diwakilkan orang lain.
c). Pemeriksaanya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilaian.
d).Cara memerikasanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektif.
2). Petunjuk penyusunan
a).        Hendaknya soal-soal tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang diteskan, dan kalau mungkin disusun soal yang sifatnya komprehensif.
b).Hendaknya soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku atau catatan.
c).        Pada waktu menyusun, soal-soal itu sudah dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman penilaiannya.
d). Hendaknya diusahakan agar pertanyaannya bervariasi antara Jelaskan, Mengapa, Bagaimana, Seberapa jauh, agar dapat diketahui lebih jauh penguasaan siswa terhadap bahan.
e).        Hendaknya rumusan soal dibuat sedemikian rupa sehingga mudah dipahami.
f).        Hendaknya ditegaskan model jawaban apa yang dikehendaki oleh penyusunan tes. Untuk ini pertanyaan tidak boleh terlalu umum, tetapi harus spesifik.[2]
3). Tes Uraian dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu:
a).        Tes uraian bentuk bebas, artinya butir soal itu hanya menyangkut masalah utama yang dibicarakan, tanpa memberikan arahan tertentu dalam menjawabnya. Contoh: Apa yang mendasari pertimbangan Indonesia dalam memilih sistem ekonomi koprasi?
b). Tes uraian terbatas, artinya peserta didik diberi kebebasan untuk menjawab soal yang di tanyakan, namun arah jawaban di batasi sedemikian rupa, sehingga kebebasan tersebut menjadi bebas tetapi terarah. Contoh: Apakah perbedaan sistem ekonomi kapitalis, sosialis, dan ekonomi koprasi?
Perbedaan antara pertanyaan sistem bebas dengan sistem terbatas terletak pada kriteria sumber jawaban dan garis besar jawabannya.
Dalam melaksanakan suatu tes tertulis ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Adapun hal-hal tersebut antara lain
a.    Ruangan tempat tes yang dilaksanakan hendaknya di usahakan setenang mungkin. bangku-bangku dalam ruangan tes harus di susun cukup longgar sehingga peserta tes dapat bekerja secara wajar
b.    Murid-murid harus diperingatkan bahwa mereka tiddak boleh bekerja sebelum ada tanda untuk mulai mengerjakan soal.
c.    Selama murid-murid bekerja para pengawas tes dapat berjalan-jalan dengan catatan tidak mengganggu suasana, untuk mengawasi apakah murid-murid bekerja secara wajar atau tidak.
d.    Apabila waktu yang telah ditentukan telah habis, maka semua peserta tes diperintahkan untuk berhenti bekerja dan segera meninggalkan ruangan tes secara tertib.
e.    Setelah alat-alat terkumpulkan maka pengawas tes supaya mengisi catatan-catatan tentang kejadian-kejadian penting yang terjadi selama tes berlangsung.[3]
2.  Tes Objektif
Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esai. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak dari pada tes esai.
Adapun kelebihan, kekurangan, cara mengatasi kekurangan dan macam-macam dari tes ini yaitu:
1.    Kelebihan
a.    Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif
b.    Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi
c.    Pemeriksaannya dapat diserahkan orang lain
d.                  Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.
2.    Kekurangan
a.       Persiapan untuk menyusunnya jauh lebih sulit dari pada tes esai.
b.      Soal-soalnya cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja, dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi.
c.       Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.
d.      “Kerjasama” antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.
3.      Cara mengatasi kekurangan
a.    Kesulitan menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih terus-menerus hingga betul-betul mahir.
b.    Menggunakan tabel spesifikasi untuk mengatasi kekurangan nomor satu dan dua.
c.    menggunakan norma (standar) penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan (guessing) yang bersifat spekulatif itu.[4]
4.    Macam-Macam Tes Objektif
a.         Tes benar-salah (true-false)
Bentuk tes yang ditanya tinggal memilih jawaban di antara benar atau salah. tidak ada pilihan lain. Dengan menandai masing-masing pertanyaan itu dengan melingkari huruf B jika pertanyaan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari huruf S jika pertanyaannya salah.[5]
Bentuk-bentuk benar atau salah ada dua cara yakni:
a).Dengan koreksi: siswa harus membetulkannya bila ia memilih jawaban yang salah.
b). Tanpa koreksi: artinya meskipun jawaban itu salah tidak perlu siswa membetulkannya.
Dalam tes true-false atau benar-salah ada juga beberapa kelebihan dan kekurangan yaitu:
1)        Kelebihan
a).Mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaan-pertanyaannya singkat.
b). Mudah menyusunnya.
c). Dapat digunakan berkali-kali.
d). Dapat dilihat secara cepat dan objektif.
e). Petunjuk cara mengerjakannya mudah dimengerti.
2).   Kekurangan
a).                      Sering membingungkan.
b). Mudah ditebak atau diduga.
c).                      Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah.
d). Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenalan kembali.
a.        Tes Pilihan Ganda (Multiple choice test)
Tes pilihan ganda terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinnya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. tes pilihan ganda ini terdiro atas bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan njawaban atau alternative (option).
1.    Penggunaan Tes Pilihan Ganda
Tes bentuk pilihan ganda ini merupakan tes objeaktif yang paling banyak digunakan karena banyak sekali materi yang dapat dicakup.
2.    Petunjuk Penyusunan
Pada dasarnya, soal bentuk pilihan ganda ini adalah bentuk benar salah juga, tetapi dalam bentuk jamak. Tercoba (testee) diminta membenarkan atau menyalahkan setiap stem dengan tiap pilihan jawab. Kemungkinan jawaban itu biasanya sebanyak tiga atau empat buah, tetapi adakalanya dapat juga lebih banyak (untuk tes yang akan diolah dengan computer banyaknya option diusahakan 4 buah).
b.                  Menjodohkan (Matching Test)
Matching Test dapat kita ganti dengan istilah membanndingkan, mencocokan, memasangkan , atau menjodohkan. Matching Test terdiri dari atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban masing- masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid dalam tes ini yaitu mencari dan menempatkan jawaban-jwaban, sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.
Adapun petunjuk penyusunan tes ini yaitu :
1.      Seri pertanyaan–pertanyaan dalam matching tes hendaknya tidak lebih dari sepuluh soal atau item.
2.      Jumlah jawaban yang harus dipilih, harus lebih banyak dari pada jumlah soalanya.
3.      Antara item-item yang tergabung dalam satu seri matching tes harus merupakan pengertian-pengertian yang benar-benar mungkin.
c.                   Tes Isian (completion test)
Completin test biasa kita sebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan atau tes melengkapi. Tes ini terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagian yang dihilangkan. Bagian yang dihilangka atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari murid.
Adapun penyusunan tes ini yaitu :
1.      Perlu selalu diingat bahwa kita tidak dapat merencanakan lebih dari satu jawaban yang kelihatan logis
2.      Jangan mengutip kalimat atau pernyataan yang tertera pada buku atau catatan
3.      Diusahakan semua tempat kosong hendaknya sama panjang
4.      Diusahakan hendaknya setiap pernyataan jangan mempunyai lebih dari satu tempat kosong
5.      Jangan mulai dengan tempat kosong.[6]


[2] Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Askara; 2009)hal. 162-164
[4] Op Cit, Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, hal. 164-165
[5] Drs. Nana Sudjana, Dasar-dasar proses belajar mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo: 2009)hal. 119
[6] Op Cit, Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, hal. 165-177

No comments:

Post a Comment