Sistem Evaluasi
Pembelajaran
A.
Pengertian Tes Tertulis
Tes tertulis
ialah tes yang soal dan jawabanya diberikan pada siswa berupa bahasa tulisan.
kelebihan tes ini yaitu dapat mengukur kemampuan sejumlah siswa dalam tempat
yang terpisah dan dalam waktu yang sama. Dalam tes tertulis, peserta didik
relative memiliki kebebasan untuk menjawab soal, sebab tidak banyak pengaruh
dari kehadiran pribadi pendidik dalam soal tersebut. sehingga peserta didik
lebih bebas dan tidak terikat. Selain kelebihan tes tertulis juga tetap
mempunyai kekurangan yaitu belum tentu cocok mengukur ranah psikomotorik dan
mengukur ranah afektif pada tingkat karakteristik. disamping itu apabila tidak
menggunakan bahasa yang tegas dan lugas dapat mengandung pengertian ganda,
sehingga berakibat data yang masuk salah. demikian pula dalam mengambil
keputusan.[1]
B.
Bentuk-bentuk Tes
Secara umum tes
tertulis dibagi menjadi dua bagian antara lain:
1.
Tes Subyektif
Tes subyektif
pada umumnya berbentuk esai (uraian). tes bentuk uraian adalah sejenis tes
kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian
kata-kata. Ciri-ciri pertanyaannya didahului dengan kata-kata seperti: uraikan,
jelaskan, mengapa, bagaimana, bandingkan, simpulkan, dan sebagainya. dan
soal-soal bentuk uraian ini biasanya jumlah soalnya tidak banyak, hanya sekitar
5-10 buah soal dalam waktu kira-kira 90-120 menit.
1). Adapun kelebihan dan kekurangan pada tes ini yaitu:
a.
Kelebihan
a)
Mudah disiapkan dan disusun.
b)
Tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi atau
untung-untungan
c)
Mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta menyusun
dalam bentuk kalimat yang bagus.
d)
Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan
gaya bahasa dan caranya sendiri.
e) Dapat diketahui
sejauh mana siswa mendalami sesuatu masalah yang diteskan.
b.
Kekurangan
a). Kadar validitas dan reabilitas rendah karena sukar diketahui
segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang betul-betul telah dikuasai.
b). Waktu koreksi lama dan
tidak bisa diwakilkan orang lain.
c). Pemeriksaanya lebih sulit
sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilaian.
d).Cara memerikasanya banyak dipengaruhi oleh unsur-unsur
subjektif.
2). Petunjuk penyusunan
a). Hendaknya soal-soal
tes dapat meliputi ide-ide pokok dari bahan yang diteskan, dan kalau mungkin
disusun soal yang sifatnya komprehensif.
b).Hendaknya
soal tidak mengambil kalimat-kalimat yang disalin langsung dari buku atau
catatan.
c). Pada waktu menyusun, soal-soal itu sudah
dilengkapi dengan kunci jawaban serta pedoman penilaiannya.
d). Hendaknya
diusahakan agar pertanyaannya bervariasi antara Jelaskan, Mengapa, Bagaimana,
Seberapa jauh, agar dapat diketahui lebih jauh penguasaan siswa terhadap bahan.
e). Hendaknya rumusan soal dibuat sedemikian
rupa sehingga mudah dipahami.
f). Hendaknya ditegaskan model jawaban apa
yang dikehendaki oleh penyusunan tes. Untuk ini pertanyaan tidak boleh terlalu
umum, tetapi harus spesifik.[2]
3). Tes Uraian dapat dibedakan menjadi dua bentuk,
yaitu:
a). Tes uraian bentuk bebas, artinya butir
soal itu hanya menyangkut masalah utama yang dibicarakan, tanpa memberikan
arahan tertentu dalam menjawabnya. Contoh: Apa yang mendasari pertimbangan
Indonesia dalam memilih sistem ekonomi koprasi?
b).
Tes uraian terbatas, artinya peserta didik diberi kebebasan untuk menjawab soal
yang di tanyakan, namun arah jawaban di batasi sedemikian rupa, sehingga
kebebasan tersebut menjadi bebas tetapi terarah. Contoh: Apakah perbedaan
sistem ekonomi kapitalis, sosialis, dan ekonomi koprasi?
Perbedaan
antara pertanyaan sistem bebas dengan sistem terbatas terletak pada kriteria
sumber jawaban dan garis besar jawabannya.
Dalam
melaksanakan suatu tes tertulis ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian.
Adapun hal-hal tersebut antara lain
a.
Ruangan tempat tes yang dilaksanakan hendaknya di usahakan setenang
mungkin. bangku-bangku dalam ruangan tes harus di susun cukup longgar sehingga
peserta tes dapat bekerja secara wajar
b.
Murid-murid harus diperingatkan bahwa mereka tiddak boleh bekerja
sebelum ada tanda untuk mulai mengerjakan soal.
c.
Selama murid-murid bekerja para pengawas tes dapat berjalan-jalan
dengan catatan tidak mengganggu suasana, untuk mengawasi apakah murid-murid
bekerja secara wajar atau tidak.
d.
Apabila waktu yang telah ditentukan telah habis, maka semua peserta
tes diperintahkan untuk berhenti bekerja dan segera meninggalkan ruangan tes
secara tertib.
e.
Setelah alat-alat terkumpulkan maka pengawas tes supaya mengisi
catatan-catatan tentang kejadian-kejadian penting yang terjadi selama tes
berlangsung.[3]
2. Tes Objektif
Tes objektif
adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini
memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esai.
Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak
dari pada tes esai.
Adapun
kelebihan, kekurangan, cara mengatasi kekurangan dan macam-macam dari tes ini
yaitu:
1.
Kelebihan
a.
Mengandung lebih banyak segi-segi yang positif
b.
Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan
kunci tes bahkan alat-alat hasil kemajuan teknologi
c.
Pemeriksaannya dapat diserahkan orang lain
d.
Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subjektif yang mempengaruhi.
2.
Kekurangan
a. Persiapan untuk
menyusunnya jauh lebih sulit dari pada tes esai.
b. Soal-soalnya
cenderung untuk mengungkapkan ingatan dan daya pengenalan kembali saja, dan
sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi.
c. Banyak
kesempatan untuk main untung-untungan.
d. “Kerjasama”
antar siswa pada waktu mengerjakan soal tes lebih terbuka.
3. Cara mengatasi
kekurangan
a. Kesulitan
menyusun tes objektif dapat diatasi dengan jalan banyak berlatih terus-menerus
hingga betul-betul mahir.
b. Menggunakan
tabel spesifikasi untuk mengatasi kekurangan nomor satu dan dua.
c. menggunakan
norma (standar) penilaian yang memperhitungkan faktor tebakan (guessing)
yang bersifat spekulatif itu.[4]
4.
Macam-Macam Tes Objektif
a.
Tes benar-salah (true-false)
Bentuk tes yang
ditanya tinggal memilih jawaban di antara benar atau salah. tidak ada pilihan
lain. Dengan menandai masing-masing pertanyaan itu dengan melingkari huruf B
jika pertanyaan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari huruf S jika
pertanyaannya salah.[5]
Bentuk-bentuk
benar atau salah ada dua cara yakni:
a).Dengan koreksi: siswa harus membetulkannya bila ia memilih
jawaban yang salah.
b). Tanpa koreksi: artinya meskipun jawaban itu salah tidak perlu
siswa membetulkannya.
Dalam tes
true-false atau benar-salah ada juga beberapa kelebihan dan kekurangan yaitu:
1)
Kelebihan
a).Mencakup
bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya
pertanyaan-pertanyaannya singkat.
b). Mudah
menyusunnya.
c). Dapat
digunakan berkali-kali.
d). Dapat dilihat secara cepat dan objektif.
e). Petunjuk cara mengerjakannya mudah dimengerti.
2). Kekurangan
a). Sering
membingungkan.
b). Mudah ditebak atau diduga.
c). Banyak
masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau
salah.
d). Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenalan kembali.
a.
Tes Pilihan Ganda (Multiple choice test)
Tes pilihan
ganda terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian
yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinnya harus memilih satu dari beberapa
kemungkinan jawaban yang telah disediakan. tes pilihan ganda ini terdiro atas
bagian keterangan (stem) dan bagian kemungkinan njawaban atau
alternative (option).
1. Penggunaan Tes
Pilihan Ganda
Tes bentuk
pilihan ganda ini merupakan tes objeaktif yang paling banyak digunakan karena
banyak sekali materi yang dapat dicakup.
2. Petunjuk
Penyusunan
Pada
dasarnya, soal bentuk pilihan ganda ini adalah bentuk benar salah juga, tetapi
dalam bentuk jamak. Tercoba (testee) diminta membenarkan atau menyalahkan
setiap stem dengan tiap pilihan jawab. Kemungkinan jawaban itu biasanya
sebanyak tiga atau empat buah, tetapi adakalanya dapat juga lebih banyak (untuk
tes yang akan diolah dengan computer banyaknya option diusahakan 4 buah).
b.
Menjodohkan (Matching Test)
Matching Test dapat kita ganti dengan istilah membanndingkan,
mencocokan, memasangkan , atau menjodohkan. Matching Test terdiri dari atas
satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban masing- masing pertanyaan mempunyai
jawaban yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid dalam tes ini yaitu
mencari dan menempatkan jawaban-jwaban, sehingga sesuai atau cocok dengan
pertanyaannya.
Adapun petunjuk
penyusunan tes ini yaitu :
1. Seri
pertanyaan–pertanyaan dalam matching tes hendaknya tidak lebih dari sepuluh
soal atau item.
2. Jumlah jawaban
yang harus dipilih, harus lebih banyak dari pada jumlah soalanya.
3. Antara
item-item yang tergabung dalam satu seri matching tes harus merupakan
pengertian-pengertian yang benar-benar mungkin.
c.
Tes Isian (completion test)
Completin test biasa kita
sebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan atau tes melengkapi. Tes ini
terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagian yang dihilangkan. Bagian
yang dihilangka atau yang harus diisi oleh murid ini adalah merupakan
pengertian yang kita minta dari murid.
Adapun
penyusunan tes ini yaitu :
1. Perlu selalu
diingat bahwa kita tidak dapat merencanakan lebih dari satu jawaban yang
kelihatan logis
2. Jangan mengutip
kalimat atau pernyataan yang tertera pada buku atau catatan
3. Diusahakan
semua tempat kosong hendaknya sama panjang
4. Diusahakan
hendaknya setiap pernyataan jangan mempunyai lebih dari satu tempat kosong
5. Jangan mulai
dengan tempat kosong.[6]
[2]
Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta:
Bumi Askara; 2009)hal. 162-164
[4] Op
Cit, Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, hal.
164-165
[5]
Drs. Nana Sudjana, Dasar-dasar proses belajar mengajar, (Bandung: Sinar
Baru Algensindo: 2009)hal. 119
[6] Op
Cit, Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, hal.
165-177
No comments:
Post a Comment