MAKALAH TENTANG STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF
BAB
I
PENDAHULUAN
Belajar aktif itu diperlukan oleh peserta didik untuk
mendapatkan hasil belajar yang maksimum.
Ketika peserta didik pasif, atau
hanya menerima dari pengajar, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang
telah diberikan. Oleh sebab itu diperlukan perangkat tertentu untuk dapat
mengikat informasi yang baru saja diterima dari dosen. Belajar aktif adalah
salah satu cara untuk mengikat informasi yang baru kemudian menyimpannya dalam
otak. Mengapa demikian? Karena salah satu faktor yang menyebabkan informasi
cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia itu sendiri. Belajar yang
hanya mengandalkan indera pendengar mempunyai beberapa kelemahan, padahal hasil
belajar seharusnya disimpan sampai waktu yang lama. Kenyataan ini sesuai dengan
kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof kenamaan dari china,
konfusius.
Dia
Mengatakan:
Apa yang saya dengar, saya lupa
Apa yang saya lihat, saya ingat
Apa yang saya lakukan, saya paham
Ketika
ada informasi yang baru, otak manusia tidak hanya sekedar menerima dan
menyimpan. Akan tetapi otak manusia akan memproses informasi tersebut sehingga
dapat dicerna kemudian disimpan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Aktif
Pembelajaran aktif ialah suatu pembelajaran yang
mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif. Ketika peserta didik belajar
dengan aktif, berarti mereka yang mendominasi aktifitas pembelajaran. Dengan
ini mereka secara aktif menggunakan otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi
kuliah, memecahkan persoalan, atau mengaplikasi apa yang baru mereka pelajari
kedalam satu persoalan yang ada dalam kehidupan nyata. Dengan belajar aktif
ini, peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran,
tidak hanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya
peserta didik akan merasakan suasana yang lebih menyenangkan sehingga hasil
belajar dapat dimaksimalkan.
B. Beberapa Strategi Aktif dalam
Pembelajaran
1.
Brain Storming
2. Card
Sort
Strategi ini merupakan kegiatan kolaboratif yang bisa digunakan
untuk mengajarkan konsep, karakteristik, klasifikasi, fakta, tentang obyek atau
meriview informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi ini dapat
membantu mendinamiskan kelas yang jenuh atau bosan.
Langkah-langkah
a.
Setiap
peserta didik diberi potongan kertas yang berisi formulir atau contoh yang
tercakup dalam satu atau lebih kategori.
Berikut beberapa contoh:
·
Karaktreristik
hadis sahih
·
Nouns,
verbs, advers, dan preposition
·
Ajaran
Mu’tazilah
·
Dan
lain-lain
b. Mintalah peserta didik untuk bergerak dan
berkeliling di dalam kelas untuk menemukan kartu dengan kategori yang sama.
(Anda dapat mengumumkan kategori tersebut sebelumnya atau membiarkan peserta
didik menemukannya sendiri).
c. Peserta didik dengan kategori yang sam
diminta mempresentasikan kategori masing-masing di depan kelas.
d. Seiring dengan presentasi dari tiap-tiap
kategori tersebut, berikan poin-poin penting terkait materi pelajaran.
3.
Jingsaw Learning (Belajar Model Jiqsaw)
Strategi ini
merupakan strategi yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan
dipelajari dapat dibagi menjadi beberapabagian dan materi tersebut tidak
mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan strategi ini adalah dapat melibatkan
seluruh peserta didik dalam belajar dan sekaligus mengajarkan kepada orang
lain.
Langkah-langkah
a. Pilihlah materi pelajaran yang dapat
dibagi menjadi beberapa segmen (bagian).
b. Bagi peserta didik menjadi beberapa
kelompok sesuai dengan jumlah segmen yang ada. Jika jumlah peserta didik adalah
50, sementara jumlah segmen yang ada adalah 5, maka masing-masing kelompok
terdiri dari 10 orang. Jika jumlah ini dianggap terlalu besar, bagi lagi
menjadi dua, sehingga setiap kelompok terdiri dari 5 orang, kemudian setelah
proses selesai gabungkan kedua kelompok pecahan tersebut.
c. Setiap kelompok mendapat tugas membaca
dan memahami materi kuliah yang berbeda-beda.
d. Setiap kelompok mengirimkan anggotanya ke
kelompok lain untuk menyampaikan apa yang telah mereka pelajari di kelompok.
e. Kembalikan suasana kelas seperti semula
kemudian tanyakan sekiranya ada persoalan-persoalan yang tidak terpecahkan
dalam kelompok.
f. Beri peserta didik beberapa pertanyaan
untuk mengecek pemahaman mereka terhadap materi.
4.
Information
Search
Metode ini sama
dengan ujian open book. Secara berkelompok peserta didik mencari informasi
(biasanya tercakup dalam pelajaran) yang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan kepada mereka. Metode ini sangat membantu pembelajaran untuk lebih
menghidupkan materi yang dianggap kering.
Langkah-langkah
a. Buatlah bebrapa pertanyaan yang dapat
dijawab dengan mencari informasi yang dapat ditemukan dalam bahan-bahan sumber
yang bisa diakses peserta didik. Bahan-bahan sumber ini bisa dalam bentuk:
·
Handsout
·
Dokumen
·
Buku
teks
·
Informasi
dari internet
·
Perangkat
keras (mesin, computer, dan alat-alat lain)
b. Bagikan pertanyaan-pertanyaan tersebut
kepada peserta didik.
c. Minta peserta didik menjawab pertanyaan
bisa individual atau kelompok kecil. Kompetisi antar kelompok dapat dapat
diciptakan untuk meningkatkan partisipasi.
d. Beri komentar atas jawaban yang diberikan
peserta didik. Kembangkan jawaban untuk memperluas skope pembelajaran.
5.
Snow balling (Bola Salju)
Strategi ini
digunakan untuk mendapatkan jawaban yang dihasilkan dari diskusi peserta didik
secara bertingkat. Dimulai dari kelompok kecil kemudian dilanjutkan dengan
kelompok yang lebih besar sehingga pada akhirnya akan memunculkan dua atau tiga
jawaban yang telah disepakati oleh peserta didik secara berkelompok. Strategi
ini akan berjalan dengan baik jika materi yang dipelajari menuntut pemikiran
yang mendalam atau yang menuntut peserta didik untuk berpikir analisi bahkan
mungkin sintesis. Materi-materi yang bersifat factual, yang jawabannya sudah
ada di dalam buku teks mungkin tidak tepat diajarkan dengan strategi ini.
Langkah-langkah
a. Sampaikan topik materi yang akan
diajarkan.
b. Minta peserta didik untuk menjawab secara
berpasangan (dua orang).
c. Setelah peserta didik yang bekerja
berpasangan tadi mendapatkan jawaban, pasangan tadi digabungkan dengan pasangan
di sampingnya. Dengan ini terbentuk kelompok dengan anggota empat orang.
d. Kelompok berempat ini mengerjakan tugas
yang sama seperti dalam kelompok dua orang. Tugas ini dapat dilakukan dengan
membandingkan jawaban kelompok dua orang dengan kelompok yang lain. Dalam
langkah ini perlu ditegaskan bahwa jawaban kedua kelompok harus disepakati oleh
semua anggota kelompok baru.
e. Setelah kelompok berempat ini selesai
mengerjakan tugas, setiap kelompok digabungkan dengan satu kelompok yang lain.
Dengan ini muncul kelompok baru yang anggotanya delapan orang.
f. Yand dikerjakan oleh kelompok baru ini
sama dengan tugas pada langkah keempat diatas. Langkah ini dapat dilanjutkan
sesuai dengan jumlah peserta didik atau waktu yang tersedia.
g. Masing-masing kelompok diminta
menyampaikan hasilnya kepada kelas.
h. Pengajar akan membandingkan jawaqban dari
masing-masing kelompok kemudian memberikan ulasan-ulasan dan
penjelasan-penjelasan secukupnya sebagai klarifikasi dari jawaban peserta
didik.
6.
Reading Guide (Panduan Membaca)
Dalam beberapa
kesempatan, sering terdapat kejadian bahwa materi tidak dapat diselesaikan di
dalam kelas dan harus diselesaikan di luar kelas karena banyaknya materi yang
harus diselesaikan. Dalam keadaan seperti ini strategi ini dapat digunakan
secara optimal.
Langkah-langkah
a. Tentukan bacaan yang harus dipelajari.
b. Buatlah pertanyaan-pertanyaan yang akan
dijawab oleh peserta didik atau kisi-kisi dan boleh juga bagan atau skema yang
dapat diisi oleh mereka dari bahan bacaan yang telah dipilih tadi.
c. Bagikan bahan bacaan dengan pertanyaan
atau kisi-kisinya pada peserta didik.
d. Tugas peserta didik adalah mempelajari
bahan bacaan dengan menggunakan pertanyaan atau kisi-kisi yang ada. Batasi
aktifitas ini sehingga tidak akan memakan waktu yang berlebihan.
e. Bahas pertanyaan atau kisi-kisi tersebut
dengan menanyakan jawabannya kepada peserta didik.
f. Di akhir pelajaran beri ulasan
secukupnya.
BAB III
PENUTUP
7.
Kesimpulan
Perkembangan
yang pesat utamanya dalm bidang informasi, mensyaratkan perlunya menggeser pola
pembelajaran menjadi pembelajaran yang lebih aktif dan partisipasif. Dengan
semakin meningkatnya laju perkembangan pengetahuan, guru tidak lagi mampu
menjadi satu-satunya sumber informasi. Demikian juga dengan peserta didik,
perlu menggeser peran dari sekedar penerima pasif informasi menuju pencarian
aktif pengetahuan dan keterampilan serta menggunakannya secara bermakna.
Hal ini sejalan dengan Peraturan
Pemerintahan (PP) No. 19/2005 yang menekankan bahwa pembelajaran/perkuliahan
harus dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang
yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat,
minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Ide pembelajaran
aktif ini sebenarnya mengacu kepada
bagaimana memberikan sesuatu yang berbeda kepada orang yang berbeda. Jadi
pembelajaran aktif sebenarnya mengakomodasi perbedaan yang ada di antara
individu peserta didik. Seperti diketahui setiap peserta didik bersifat unik.
Peserta didik yang satu berbeda dengan peserta didik lain dilihat dari berbagai
sisi.
Daftar Pustaka
Ziani,
Hisyam. Munthe, Bermawy. Ayu Aryani, Sekar, Strategi Pembelajaran Aktif,
Pustaka Insan Madani, Yogyakarta; 2008
No comments:
Post a Comment