Friday, 2 May 2014

MAKALAH PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATERA



MAKALAH
PENDIDIKAN ISLAM DI SUMATERA
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan memiliki peranan penting dalam mewariskan nilai-nilai kebenaran yang diyakini oleh suatu generasi ke generasi berikutnya. Demikian halnya dengan ajaran Islam yang sarat nilai (full values), pendidikan dalam konteks Islam biasa disebut pendidikan Islam merupakan sarana yang paling efektif untuk mengembangkan potensi manusia secara optimal sesuai dengan fitrahnya. Dalam konteks sejarah pendidikan di Minangkabau, lembaga "surau" memainkan peranan yang amat penting dalam membina dan mendidik masyarakat untuk memahami adat dan mengamalkan syariat. Dengan begitu, surau tidak hanya dipandang sebagai tempat beribadah secara mahdhah seperti shalat, akan tetapi surau juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam yang beradaptasi dengan budaya setempat.
Fakta lain juga menunjukkan bahwa surau telah berhasil melahirkan ulama-ulama besar dari Minangkabau yang berperan di tingkat nasional, bahkan di tingkat internasional. Pendidikan surau di Minangkabau sangat menarik untuk dikaji. Hal ini setidaknya disebabkan empat factor, yaitu:
  • Pertama: lembaga pendidikan merupakan sarana yang strategis bagi proses terjadinya transformasi nilai budaya pada suatu komunitas social. Dalam lintas sejarah, kehadiran lembaga pendidikan islam telah memberikan andil yang sangat besar bagi pengembangan ajaran yang terdapat dalam Al-quran dan Hadits.
  • Kedua: pelacakan eksistensi lembaga pendidikan islam tidak bisa dilepaskan dari proses masuknya islam di minangkabau yang bernuansa mistis (tharekat), dan mengalami akulturasi dengan budaya lokal (adat).
  • Ketiga: kemunculan lembaga pendidikan islam dalam sebuah komunitas  tidak mengalami ruang hampa, akan tetapi senantiasa dinamis baik dari fungsi maupun sistem pembelajarannya.
  • Keempat: kehadiran lembaga pendidikan islam telah memberikan spectrum tersendiri dalam membuka wawasan dan dinamika intelektual islam.
B.     Tujuan
Dengan di buatnya makalah tentang sejarah pendidikan islam di sumatera (Minangkabau) di harapkan kita dapat mengetahui bagaimana pendidikan islam yang ada di daerah sumatera khususnya di Minangkabau.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pendidikan Islam di Minangkabau
Tidak diketahui secara pasti kapan dan oleh siapa Islam dibawa ke Minagkabau. Yang pasti menurut catatan sejarah Islam di Minang, surau didirikan pertama kali oleh Syekh Burhanuddin, murid dari Syekh Abdur Rauf bin Ali dari Singkil (Aceh). Hal itu terjadi kira-kira tahun 1646 M.- 1691M. Surau pertama tersebut didirikan di kampung Ulakan. Disinilah beliau mendidik dan mengajar beberapa orang pemuda untuk meneruskan ajaran Islam di Minangkabau. Adapun beberapa peninggalan syekh Burhanuddin di kantor penerangan agama Sumatera barat berupa: stempel  dari tembaga dengan tulisan arab, sebilah pedang, sebuah kitab berjudul Fathul wahab karangan Abi Yahya Zakaria Anshari  dan sebuah catatan khutbah jumat  dengan tulisan tangan berhuruf arab[1].
Agama Islam masuk ke Minangkabau melalui dua arah, yaitu:
1.                  Dari Malaka, melalui Sungai Siak dan Sungai Kampar lalu ke pusat Minangkabau
2.                  Dari Aceh, melalui pesisir barat.
Dengan tersebarnya Islam ke Minangkabau, adat setempat yang berlawanan dengan syara mulai ditinggalkan. Peraturan-peraturan yang berlaku dalam negeri dinamai Hukum Adat. Dan peraturan-peraturan secara Islam dinamai Hukum Syarak sehingga terkenal pepatah,” Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah”.
Islam di Minangkabau terpecah menjadi dua aliran yaitu aliran lama yang di pimpin oleh Tuanku Nan Tuo dan Pakih Sagir yang tetap menghormati adat yang sesuai dengan budaya islam, dan aliran baru yang menentang adat, yang pemimpinnya terkenal dengan sebutan Tuanku Nan Selapan yang digelari orang Harimau Nan Selapan[2].
B.       Sejarah awal pertumbuhan surau
Kata-kata surau dalam pengertian etimologi berasal dari Bahasa Sanskerta yang berasal dari kata-kata “Suro”, diartikan sebagai “tempat penyembahan”. Berdasarkan pengertian asalnya ini dapat disimpulkan bahwa pengertian surau pada awalnya adalah: “Bangunan kecil tempat untuk penyembahan arwah nenek moyang”. Fungsi surau berdasarkan pengertian di atas berjalan cukup lama, bahkan diperkirakan sampai islam masuk ke daerah ini. Masa perkembangan berikutnya, yaitu ketika surau di minangkabau memasuki tahap Islamisasi, terminologi surau kemudian mengalami perluasan makna menjadi salah satu tempat peribadatan bagi umat islam sekaligus menjadi salah satu institusi pendidikan Agama Islam bagi masyarakat Minangkabau.
Aktivitas ibadah dan pendidikan Islam muncul di surau untuk pertama kalinya ketika Syekh Burhanuddin mengajarkan dan mengembangkan Islam di Surau Ulakan Pariaman. Tatkala islam masuk, kehadiran surau pertama kali diperkenalkan oleh syekh Burhanuddin sebagai tempat melaksanakan shalat dan pendidikan tharekat (suluk), dengan cepat bisa tersosialisasi secara baik dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Posisi surau kemudian mengalami perkembangan. Selain fungsinya diatas, surau juga menjadi tempat berkumpulnya anak laki-laki yang telah baligh dan persinggahan bagi para perantau.
Diantara ulama besar minangkabau yang pernah belajar di surau ulakan adalah tuanku mansiang nan tuo yang mendirikan surau paninjauan dan tuanku nan kacik yang mendirikan surau di koto gedang. Kemudian ulama minangkabau ini melalaui surau-surau yang didirikannya, menyebarkan ajaran islam yang menghasilkan ulama-ulama islam minangkabau yang baru, seperti tuanku nan tuo di koto tuo. Dari sini kemudian surau berkembang dengan pesat diwilayah minangkabau[3].
Susunan materi pendidikan Islam di Minagkabau, antara lain sebagai berikut:
a.       Belajar huruf hijaiyyah sebagaimana di Aceh
b.      Pengajian kitab yang terbagi atas tiga tingkatan,:
Mengaji Nahwu, Saraf, dan Fiqih
c.       Mengaji Tauhid
d.      Mengaji Tafsir
e.       Pengajiian Ilmu Tasawuf
Dikemudian hari baru diketahui sumber kitab-kitab baru yang masuk ke Minagkabau. Sumber terbanyak adalah dari Mesir dan Singapura. Setelah berdiri took kitab Syekh Ahmad Khalid Bukit tinggi kitab-kitab tersebut dipesan dari Mesir. Bahkan, majalah Al Manar  yang membawa aliran baru itupun mudah masuk ke Minagkabau. System pendidikan yang digunakan masih seperti masa-masa awal, yaitu system halaqah dan system majelis taklim.
Pada tahun 1911, pendidikan islam di Minagkabau tidak hanya di Pandang sebagai milik para murid madrasah atau santri, melainkan menjadi milik masyarakat Minangkabau secara keseluruhan. Hal itu disebabkan lahirnya majalah pertama di Indonesia yang memuat tentang pendidikan Islam untuk seluruh lapisan masyarakat yaitu majalah Al Munir. Majalah ini diterbitkan di Padang oleh Syekh H. Abdulloh Ahmad yang dibantu oleh Syekh Abdul Karim Amrulloh dan Syekh M. Thaib Umar juz I majalah Al Munir terbit  tanggal 1 April 1911M.[4]
Beberapa pokok masalah yang menjadi Objek berita majalah Al Munir sebagai bahan peendidikan masyarakat luas Minagkabau adalah:
1.      Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan oleh Islam dengan menyandarkan seluruh isi ajaran kepada Al Qur’an dan Hadist.
2.      Ilmu sejati, mengupas masalah keimanan secara bersambung .
3.      Beberapa risalah yang berkaitan dengan  perkembangann ilmu pengetahuan.
4.      Soal jawab tentang berbagai persoalan agama.
5.      Berita tentang kejadian-kejadian yang ada di dalam dan di luar negeri teruatam di neagara-negara Islam.
6.      Buah pikiran yang isinnya mengajak para pembaca merenung dengan menggunakan akal dan pikiranya.
7.      Masalah adab dan akhlak yang bersambung tiap-tiap juz.
8.      Membrantas dongeng-dongeng , khurafat dan segala macam bentuk bid’ah dalam agama.[5]
C.    Sekilas tokoh syekh Burhanuddin
Syekh Burhanuddin dilahirkan di Sintuk Pariaman pada tahun 1066 H = (1646 M) dan wafat 1111 H (1691 M). Menurut riwayatnya, syekh Burhanuddin belajar ilmu agama di Aceh (Kotaraja) pada Syekh Abdur-Rauf bin Ali berasal dari Singkil. Beliau belajar dengan rajin, sehingga menjadi seorang ulama besar. Kemudian beliau kembali pulang ke Pariaman menyiarkan ilmu agama Islam. Mula-mula di kampung tempat lahirnya di Sintuk, kemudian pindah ke Ulakan. Di Ulakan beliau mengajarkan ilmu agama Islam dan membuka madrasah (surau) tempat pendidikan dan pengajaran Islam.
Beberapa tahun lamanya beliau menunaikan tugasnya memberikan pendidikan dan pengajaran Islam, maka pada tahun 1111 H = (1691 M) beliau meninggal dunia dalam usia kurang lebih 45 tahun. Dan dikuburkan di Ulakan, tempat beliau mengajar itu. Kemudian berturut-turut digantikan oleh murid-muridnya yang meninggal pula di sana ada yang di kuburkan dekat kuburan gurunya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam sejarah pendidikan islam di minangkabau, kehadiran surau dengan cepat mampu tersosialisasikan dalam tatanan kemasyarakatan. Hal ini disebabkan karena adat matrilineal yang dianut oleh masyarakat minangkabau telah ikut mengafektifkan fungsi surau sebagai tempat penyiaran agama islam. Keberadaan surau sebagai lembaga pendidikan agama dan tharekat, telah memberikan andil yang sangat besar bagi penyebaran islam di seluruh pelosok negeri. Meskipun dalam bentuk system pendidikan yang sangat sederhana, akan tetapi cukup sistematis dan efektif, baik dalam penyebaran agama islam maupun dalam memebentuk kepribadian umat sesuai dengan ajaran islam.
Terlepas dari berbagai kelemahannya, eksistensi surau telah mampu menghasilkan sejumlah ulama minangkabau yang memiliki komitmen terhadap islam dan menumbuhkan rasa nasionalisme umat islam. Hal ini bisa terlihat dari sikap keras mereka baik terhadap kaum adat yang mempraktikan islam sinkretis maupun terhadap intervensi colonial belanda. Melalui instistusi surau, para ulama menyusun berbagai strategi, baik dalam memecahkan persoalan umat, menata kehidupan bermasyarakat, maupun melepaskan diri dari cengkraman kaum penjajah.


DAFTAR PUSTAKA
Drs. H. A. Mustofa, Drs. Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Pustaka setia, Bandung: 1999.
Dra. Hj. Enung K Rukiati, Dra. Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, pustaka setia, Bandung; 2006.



[1] Drs. H. A. Mustofa, Drs. Abdullah Aly, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Pustaka setia, Bandung: 1999. hal 35
[2] Dra. Hj. Enung K Rukiati, Dra. Fenti Hikmawati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, pustaka setia, Bandung; 2006. hlm, 35-36
[4] Op cit, Drs. H. A. Mustofa, Drs. Abdullah Aly, hlm 73
[5] Ibid, hlm, 69

No comments:

Post a Comment