MAKALAH
Perbandingan Pendidikan Islam Di Indonesia dan Iran
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Secara historis, setelah revolusi Islam Iran tahun 1979,
sistem pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar, dan semua
upaya pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan prinsip-prinsip islam.
Prioritas harus diletakkan pada terjaminnya usaha membesarkan anak-anak dan
generasi muda sehingga menjadi muslim yang konsekuen dan punya komitmen yang
tinggi terhadap agama Islam. Upaya-upaya pendidikan juga harus diarahkan pada
penggunaan al-quran, tradisi Islam, dan konstitusi Republik Islam Iran sebagai
dasar dalam merumuskan tujuan dan sasaran pendidikan.
Pada tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha
membuka peluang sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam
pendidikan formal, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD
Republik Islam Iran menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan
dan pengajaran gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan
menengah dan mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga
semampunya”. Untuk lebih jelasnya
penulis membahas tentang perbandingan pendidikan islam di Iran.
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Masuknya Islam ke Iran
Iran merupakan salah satu Negara islam
di Timur tengah yang selalu menjadi perhatian dunia. Ibu kota Negara Iran
adalah Teheran. Negeri ini terletak di sebelah Barat Daya Asia. Luasnya
mencapai 1.648.000 km2. Masuknya agama islam ke iran sejak abad
ketujuh Masehi, menandai dimulainya upaya baru bangsa iran untuk mengembangkan
budaya mereka dan awal dari lahirnya sebuah peradaban baru. dengan mengkaji
berbagai masalah yang saling berkaitan antara isalm dan iran, memberikan
gambaran tersendiri bagi keduanya. islam sebagai sebuah agama dengan ajarannya
yang kaya pantas berbangga karena berhasil menarik hati bangsa yang cerdas dan
perperadaban tinggi, dan kebanggaan bagi iran adalah karena bangsa yang sejak
dahulu memiliki jiwa cinta kebenaran dan cinta budaya sendiri, tampil sebagai
bangsa yang paling tunduk kepada kebenaran dan siap berkorban untuknya.[1]
Masuknya islam ke iran telah
menyebabkan peningkatan dan koreksi yang lebih besar dalam masyarakat negri
ini, sehingga sejarah iran semakin menemukan arah pembaharuan. Menurut catatan
para ahli sejarah, diantara bangsa-bangsa yang memeluk agama islam, bangsa iran
memiliki tempat yang khusus. mereka dengan mudah meninggalkan pemikiran dan
ideology sebelumnya, dan dengan sungguh-sungguh berupaya andil dalam penyebaran
agama ini.[2]
B.
Sistem Pendidikan
Di Republik Islam Iran[3]
Secara historis, setelah revolusi Islam Iran tahun 1979,
sistem pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar, dan semua
upaya pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan prinsip-prinsip islam. Pada
tahap awal, pemerintah Republik Islam Iran berusaha membuka peluang
sebesar-besarnya bagi seluruh rakyat untuk bisa mengenyam pendidikan formal,
dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pasal 30 UUD Republik Islam Iran
menyatakan, “Pemerintah berkewajiban menyediakan pendidikan dan pengajaran
gratis bagi seluruh rakyat hingga akhir tingkat pendidikan menengah dan
mengembangkan pendidikan tinggi secara gratis pula hingga semampunya”.
1. Tujuan
Pendidikan
Menurut dokumen yang disetujui oleh supreme council of education
(Dewan Tertinggi Pendidikan) pada 1998, bahwa tujuan utama pendidikan adalah
meningkatkan produktivitas, mencapai integrasi sosial dan nasional, mengelola
nilai-nilai sosial, moral dan spiritual dengan penekanan utama pada memperkuat
dan mendorong keimanan terhadap Islam. Rumusan tujuan yang disetujui Dewan juga
menekankan peran pendidikan pada pengembangan sumberdaya manusia untuk
peningkatan ekonomi, sehingga pendidikan dipandang sebagai investasi masa depan.
2.
Anggaran Pendidikan
Anggaran kementrian pendidikan pada tahun 1996 adalah 6.130
miliyar riyal (RI), merupakan 3,8% dari anggaran belanja Negara. Anggaran yang
disetujui adalah RI 5.455,6 milyar riyal, tetapi untuk menyediakan dana
talangan bagi kementrian pendidikan, telah dialokasikan dan anggaran pendidikan
bertambah menjadi RI 6.130 milyar riyal. Selain itu, untuk meningkatkan
anggaran, beberapa kesepakatan telah disetujui selama dua tahun terakhir untuk
memberikan sumber dana baru bagi kementerian pendidikan. Pada tahun 2003, total
pembiayaan pendidikan (termasuk pendidikan dasar hingga pra universitas)
berjumlah RI 39, 880 miliyar riyal atau 12% dari total anggaran belanja Negara.
3. Kebijakan
Pemerintah
Sistem sekolah berada di bawah yurisdiksi Kementerian
Pendidikan dan Pelatihan. Selain sekolah, kementerian ini juga
memiliki tanggung jawab untuk beberapa pelatihan guru dan beberapa lembaga
teknis. Departemen Pendidikan mempekerjakan jumlah tertinggi pegawai negeri
sipil 42% dari jumlah total pegawai dan menerima 21% dari anggaran
nasional. Pada tahun akademik 1990-1991, sebanyak 15.018.903 siswa telah
bersekolah dengan 87.024 kelas di seluruh negeri. Dengan rincian sebagai
berikut: 509 sekolah untuk anak-anak cacat, 3.586 TK, 59.280 Sekolah Dasar,
15.580 Sekolah Menengah Pertama, 4.515 Sekolah Menengah Atas, 380 Sekolah
Teknik, 405 Studi Bisnis dan sekolah-sekolah kejuruan, 64 Sekolah Pertanian,
238 kota dan 182 guru sekolah dasar pedesaan ‘akademi pelatihan, tujuh kejuruan
dan profesional latihan guru dan 19 lembaga perguruan tinggi teknologi. Ada
juga 2.259 sekolah-sekolah pendidikan orang dewasa.
4. Kurikulum Pendidikan
a. Pendidikan Pra Sekolah
Pada jenjang pra sekolah murid diajarkan mengenai belajar
bahasa, pengantar matematika, dan konsep sains, lebih-lebih pada nilai-nilai
agama dan kepercayaan. Selain itu juga meliputi tentang kegiatan ketrampilan
seperti kerajinan tangan, menggunting, mancetak, menggambar, bercerita,
bermain, dan berolahraga.
b. Pendidikan Dasar
Fokus kurikulum pendidikan dasar adalah pada pengembangan
ketrampilan dasar baca dan berhitung, studi lingkungan dalam tema fisik dan
fenomena social, dan pembelajaran agama. Semua mata pelajaran dan buku
pelajaran untuk sekolah dasar diputuskan dan disiapkan pada level pusat.
c. Pendidikan Menengah
1) Pendidikan
menengah rendah
Kelompok agama minoritas melakukan pembelajaran khusus
mereka dan terdapat daftar bacaan khusus untuk kelompok sunni. Diwajibkan untuk
lulus semua mata pelajaran pada jurusan yang berbeda. Pembelajaran digunakan
dengan bahasa Persia pada semua level. Untuk daerah bilingual, maka diadakan
kursus satu bulan untuk mengajarkan kunci-kunci konsep bahasa sebelum tahun
ajaran baru di mulai. Ujian dilakukan pada akhir kelas III yang diadakan oleh
level kabupaten dan propinsi.
2) Pendidikan
menengah atas
Sekolah menengah atas diperuntukkan bagi siswa yang telah
lulus sekolah menengah dasar. Mata pelajaran yang ditawarkan dikelompokkan
dalam jurusan sebagai berikut: Pertama, Jurusan akademik: tujuan
jurusan ini adalah mempromosikan pengetahuan umum dan budaya. Tedapat ujian
akhir yang dikelola oleh tingkat nasional dan bagi siwa yang lulus mendapat
ijazah diploma. Kedua, Jurusan teknik dan pendidikan kejuruan: Jurusan
ini terdiri dari tiga bidang: teknik pertanian dan kejuruan. Ketiga,
Jurusan kar-danesh (knowledge skill): Tiap kar-danesh
mempunyai silabi yang dikembangkan di bawah secretariat pendidikan menengah
proses pendidikan ini mencakup 400 ketrampilan, berbeda dengan jurusan yang
lain. Pendidikan ini bersifat berbasis kompetensi. Siswa yang berhasil dianugrahi ijazah terampil
tingkat II, dan diploma.
Disamping pendidikan formal
sebagaimana dideskripsikan di atas, di Iran juga memiliki lembaga pendidikan nonformal
seperti masjid dan lainnya yang diberdayakan untuk membantu mempercepat
pemberantasan buta aksara di kalangan manusia lanjut usia. Sejauh ini Iran
bekerjasama dengan UNESCO dan UNDP.
C.
Perbandingan
Pendidikan di Iran dan Indonesia
Jenjang
pendidikan formal iran secara sederhana adalah :
1.
Pendidikan
Prasekolah
Pendidikan prasekolah umumnya
dilaksanakan oleh lembaga-lembaga swasta. Tujuan umum pendidikan awal ini
adalah untuk mempersiapkan anak-anak memasuki pendidikan formal.
Kegiatan-kegiatan pada prasekolah ini antara lain permainan bersama, membacakan
cerita-cerita, bernyanyi, permainan aktivitas dan pekerjaan tangan yang
perlengkapannya sangat sederhana seperti kertas, papan tulis dan pena.
2.
Pendidikan
Dasar
Pendidikan dasar dimulai pada anak
berumur enam tahun dan berlangsung selama lima tahun dan kemudian diikuti
dengan bimbingan atau orientasi selama 3 tahun. Pendidikan orientasi
dimaksudkan bagi anak-anak yang bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya di
masa depan atau mencari pekerjaan.
3.
Pendidikan
Menengah
Pendidikan menengah diselenggarakan
selama 4 tahun dan dibagi dalam 2 jalur yang telah lama dan lebih besar adalah
jalur akademik yang terbagi dalam dua bidang yaitu sains dan humaniora. Jalur
kedua yaitu jalur pendidikan teknik dan kejuruan yang kurang berkembang dan
terdiri dari dua bidang, industri dan pertanian.
4.
Pendidikan
Tinggi
Pendidikan tinggi terbagi dalam
sekolah tinggi pendidikan guru yang tidak menuntut tamatan pendidikan menengah
sebagai persyaratan masuk dan berbagai sekolah tinggi lain dan universitas.
Tetapi banyak mahasiswa yang belajar di luar negeri.
Jenjang pendidikan
Iran pada awal dekade 1990 membuka kesempatan luas bagi siswa-siswi untuk
belajar sesuai dengan bakat dan interesnya. Juga terbuka pintu bagi
siswa-siswi tamatan pendidikan menengah atas untuk melanjutkan pendidikannya
ke tingkat pendidikan tinggi. Lembaga-lembaga tinggi mencakup universitas,
pusat-pusat pendidikan guru dan fakultas-fakultas teknik.
Jenjang
Pendidikan di Indonesia
Berdasarkan
Undang-undang Pendidikan Nasional tahun 2003. Jalur, jenjang dan jenis
pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan
oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat. Adapun jenjang
pendidikan tersebut antara lain:
a. Pendidikan Anak Usia Dini
Pendidikan
anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pada PAUD ini
dapat diselenggarakan melalui jalur formal, non formal dan/atau inforamal.
Pendidikan anak usia dini pada jalur formal berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK),
Raudhatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. Pendidikan anak usia
dini pada jalur pendidikan non formal berbentuk kelompok bermain (KB), Taman
Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.
b. Pendidikan Dasar
Pendidikan
Dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah.
Pendidikan dasar berbentuk Sekolah Dasar (SD) dan MAdrasah Ibtidayah (MI) atau
bentuk yang sederajatserta Sekolah MEnengah Pertama (SMP) dan Madrasah
Tsanawiyah (MTs). Akhir kelas enam siswa harus mengikuti Ujian Nasional sebagai
syarat untuk mengikuti SMP/MTs.
c. Pendidikan Menengah
Pendidikan menegah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan
menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),
Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah
Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
d.
Pendidikan
Tinggi
Pendidikan Tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah
pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana,
magister, spesialis dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.[4]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Masuknya
agama islam ke iran sejak abad ketujuh Masehi, menandai dimulainya upaya baru
bangsa iran untuk mengembangkan budaya mereka dan awal dari lahirnya sebuah
peradaban baru. Masuknya islam ke iran telah menyebabkan peningkatan dan
koreksi yang lebih besar dalam masyarakat negri ini, sehingga sejarah iran
semakin menemukan arah pembaharuan.
Secara historis, setelah revolusi Islam Iran tahun 1979, sistem
pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar, dan semua upaya
pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan prinsip-prinsip islam. sedangkan Pada
jenjang pendidikan di Indonesia dan Iran mempunyai perbedaan tersendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Hj Binti Maunah, M. Pd. I, Perbandingan Pendidikan Islam, Sukses
Offect, Yogyakarta; 2011, hal 167-168
http://ismails3ip.staff.fkip.uns.ac.id/2012/01/26/perbandingan-sistem-pendidikan-di-negara-republik-islam-iran-dan-israel/About these ads
[1]
Dr. Hj Binti
Maunah, M. Pd. I, Perbandingan Pendidikan Islam, Sukses Offect,
Yogyakarta; 2011, hal 167-168
[2]
Ibid,
No comments:
Post a Comment